MEMBANGUN PERADABAN GENERASI CERDAS DENGAN AL-QUR’AN DAN HADIS DI ERA GLOBALISASI
MEMBANGUN PERADABAN GENERASI CERDAS DENGAN AL-QUR’AN DAN HADIS DI ERA GLOBALISASI
Generasi
merupakan subjek secara individu/kolektif yang akan membawa kemana arah suatu
bangsa kedepannya. Kemajuan suatu bangsa tidak akan terlepas dari generasi-generasi
bangsanya sendiri karena mereka yang akan memperjuangkan dan mengembangkan
bangsa mereka sendiri bukan generasi bangsa lain. Untuk mewujudkan hal tersebut
maka diperlukan dukungan dari berbagai pihak yang turut berpartisipasi aktif
dalam membangun peradaban generasi cerdas yang berkarakter islami.
Hakikat
generasi cerdas bukan hanya orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan yang
tinggi, menghafal ribuan hadis tetapi juga orang yang selalu menjadi lebih baik
dan mengamalkan apa yang telah ia pelajari sebagai bekal untuk akhirat kelak.
Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang
berbunyi sebagai berikut :
عَنِ ابي يُعْلَى شدادُ بْنٌ
اوس رَضِيَ اللهُ عَنْه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيه و سُلِّمَ قَالٌ : أَلِكِيسٍ
مِنْ دَانَ نَفْسِهِ و عَمَلً لَمَّا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزِ مِنَ اِتْبَعْ
نَفْسُه هَوَاهَا وَتَمَنِّي عَلَى اللهِ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالٌ : هَذَا
حَديثُ صَحِيحٍ .
Dari Abu Ya’la yaitu
Saddad ibnu Aus r.a. dari Nabi saw. Beliau bersabda : “Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan suka beramal
untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang lemah ialah orang yang
selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan
kosong”.[1]
Hadis di atas membuka peluang yang lebih luas bagi kita
untuk menjadi golongan yang dimaksud oleh Rasulullah SAW yaitu golongan orang
cerdas. Jika kita hanya berpikir golongan yang cerdas adalah orang yang
memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi maka, secara umum masih banyak orang
yang tidak akan bisa mencapainya. Namun, ketika golongan cerdas yang dimaksud
adalah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan suka beramal untuk
kehidupannya setelah mati maka, tingkat peluangnya akan lebih besar dari teori
yang sebelumnya. Sebab sebagai seorang manusia pasti memiliki batasan-batasan
yang tidak bisa mencapai teori cerdas yang ke-1.
Membangun
peradaban generasi yang cerdas bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan jangka
waktu yang relatif singkat. Namun, membutuhkan kinerja, waktu dan do’a sebagai
proses ikhtiar manusia untuk mewujudkannya. The Golden Age yang merupakan
puncak kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah diatas kepemimpinan Harun
Ar-Rasyid mengajarkan kepada kita akan
hasil dari ikhtiar dan doa yang selama ini mereka lakukan sehingga menghasilkan
perkembangan di berbagai bidang. Mendirikan Baitul dan menjadikan Baghdad
sebagai pusat ilmu pengetahuan di abad pertengahan. Al-Khawarizmi, Jabir Ibnu
Hayyan, Al-Kindi, Al-Farghani, dll. Sebagai salah satu contoh perkembangan di
bidang Pendidikan yaitu lahirnya para ilmuwan-ilmuwan hebat di berbagai bidang.
Dengan
perkembangan ilmu pengetahuan yang diikuti dengan era globalisasi di masa kini,
tentu akan berdampak positif dan sebaliknya. Kemudahan dalam mendapatkan
informasi sehingga berdampak pada pola pikir seseorang. Inilah titik awal masa
kejayaan atau bahkan masa keterpurukan jika kita tidak menggunakannya dengan
sebaik mungkin. Ada sebuah buku yang berjudul tentang Ilmu Filasafat Islam yang
pada bagian pendahuluanya berisi tentang kesalahan pola pikir akibat kebebasan
dari intervensi agama atau yang kita kenal dengan sebutan sekularisme yaitu
suatu paham yang tidak ingin menghadirkan ajaran-ajaran agama dalam seluruh
aspek kehidupan mereka termasuk teori-toeri yang mereka kemukakan. Teori Interest
Rate atau suku bunga yang bertujuan untuk mendapatkan laba atau keuntungan
dalam kegiatan usaha manusia merupakan salah satu contoh dari berbagai
teori-teori yang sekularisme. Secara teori memang sangat efektif namun,
menghalalkan segala cara untuk mencapai sesuatu atau bahkan mendapatkan
kesenangan di atas penderitaan orang lain bukanlah hal yang baik, bukanlah hal
yang diperintahkan oleh Allah dan bukanlah hal yang diajarkan oleh Rasulullah
SAW. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah : 275 tentang
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba yang berbunyi :
اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا
لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ
الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى
فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ
النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Orang-orang yang memakan
riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan
setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama
dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang
telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada
Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di
dalamnya.[2]
Orang
yang baik bukanlah orang yang memanfaatkan orang lain sehingga ia menjadi
terbebani atau kesusahan. Tetapi, orang yang baik diantara kalian adalah
orang-orang yang bermanfaat untuk orang lain. Sebagaimana hadis yang
diriwayatkan oleh Al-Qadlaa’iy yang berbunyi :
وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ
لِلنَّاس
Dan sebaik-baik manusia
adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.[3]
Al-Qur’an
dan Hadis merupakan sumber ilmu pengetahuan yang saling menguatkan, dan saling
melengkapi. Dengan berpedoman kepada keduanya maka kita tidak akan menjadi
golongan yang tersesat. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh
Al-Hakim yang berbunyi :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ
لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
Aku tinggalkan kepada
kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang
dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur'an) dan Sunahku.[4]
Didalamnya terdapat
ajaran-ajaran yang menjadi pedoman bagi manusia dalam melakukan segala aspek
kehiupannya sehingga lebih terarah. Perintah dan larangan, kisah-kisah umat terdahulu,
mencapai kebahagaiaan dunia dan akhirat, dll. Merupakan beberapa isi yang
termuat didalamnya. Bahkan didalamnya terdapat ilmu sains yang sudah terbukti
kebenarannya hingga saat ini. Teori big bang terdapat pada Surah Al-Anbiya ayat
30, api di dasar laut terdapat pada surah At-Tur ayat 6, rotasi matahari
terdapat pada surah Yasin ayat 38, dll.
Generasi
cerdas yang berkarakter islami merupakan tahap awal lahirnya para cendekiawan yang
tidak hanya menggunakan kecerdasannya hanya untuk teori semata, namun juga
untuk diterapkan dalam kehidupannya, menyelesaikan perkara-perkara dalam
kehidupan, serta untuk kesejahteraan masyakarat. Sharif Shaary, dramawan
Malaysia terkenal, berkata:
"Belajar
di universitas bukan jaminan seseorang dapat menjadi cendekiawan... seorang
cendekiawan adalah pemikir yang sentiasa berpikir dan mengembangkan (serta)
menyumbangkan gagasannya untuk kesejahteraan masyarakat. Ia juga adalah
seseorang yang mempergunakan ilmu dan ketajaman pikirannya untuk mengkaji,
menganalisis, merumuskan segala perkara dalam kehidupan manusia, terutama
masyarakat di mana ia hadir khususnya dan di peringkat global umum untuk
mencari kebenaran dan menegakkan kebenaran itu. Lebih dari itu, seorang
intelektual juga seseorang yang mengenali kebenaran dan juga berani
memperjuangkan kebenaran itu, meskipun menghadapi tekanan dan ancaman, terutama
sekali kebenaran, kemajuan, dan kebebasan untuk rakyat.".[5]
Indikator seorang dapat dikatakan sebagai seorang
cendekiawan jika bisa membaca yang tersurat dan tersirat, mau berpikir kritis,
mau neliti, mau kasih solusi. "Cendekiawan muslim bisa membaca yang
tersurat dan tersirat, mau berpikir kritis, mau neliti, mau kasih solusi.
Sekadar kritik tanpa solusi jadinya pecundang bukan cendekiawan”,[6]
kata Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam wawancara usai peluncuran buku yang
ditulisnya berjudul A Note From Cairo.
Berdasarkan
indikator-indikator tersebut maka ada tiga poin yang dapat dilakukan untuk mewujudkan
peradaban generasi cerdas yang berakhlak islami di era globalisasi :
1.
Menanamkan ilmu keislaman dan ilmu
pengetahuan serta sikap kritis.
Generasi
cerdas tidak akan lahir tanpa ilmu. Ilmu dapat membedakan antara yang haq dan
yang batil, ilmu dapat membedakan cara berpikir seseorang. Menurut Syekh Zainudin Al-Malibari di dalam
kitab Mandhûmatu Hidâyatil Adzkiyâ’ ilâ Tharîqil Auliyâ’, di mana kitab ini
diberi penjelasan oleh Sayid Bakri Al-Makki dalam kitab Kifâyatul Atqiyâ’ wa
Minhâjul Awliyâ’, bahwa ada 3 (tiga) ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap
orang Muslim dengan kewajiban fardlu ‘ain. Pertama, Pelajarilah ilmu yang
mengesahkan ketaataan (bagaimana cara shalat yang baik dan benar). Kedua,
mengesahkan aqidah. Ketiga mensucikan hati.
2.
Memberikan bantuan dana dalam
melakukan riset penelitian.
Riset
merupakan salah satu faktor pendorong generasi cerdas, dengan riset dapat
mengembangkan ilmu pengetahuan manusia. Riset yang berdampak lebih luas tentunya
tidak terlepas dari biaya operasional sebagai penunjang riset. Maka diperlukan
Kerjasama dengan berbagai pihak (pemerintah,masyarakat,swasta untuk mewujudkan
hal ini). Diibaratkan seperti sebuah pohon, untuk mendapatkan hasil buah yang
berkualitas maka diperlukan biaya operasional berupa air, pupuk, dll.
3.
Menyaring pengaruh dari globalisasi.
Era
globalisasi ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi.
Saat ini kita semua dapat merasakan perubahan akibat era ini. Tidak hanya orang
dewasa namun, juga anak kecil sebagai penerus generasi cerdas. Era globalisasi
bagaiakan pisau bermata dua yang dapat memberikan dampak positif dan dampak
negative. Berada di era globalisasi menjadi tantangan tersendiri untuk
mewujudkan generasi cerdas. Mengambil dampak positif dari globalisasi dan tidak
mengambil dampak negatifnya atau menyaring pengaruh globalisasi bukan malah
menerima secara mentah-mentah merupakan sikap orang cerdas dalam menghadapi
globalisasi.
Berdasarkan
ketiga poin di atas dapat kita simpulkan bahwa untuk mewujudkan generasi cerdas
yang berakhlak islami yang sesuai dengan al-Qur’an dan hadis yaitu dengan
berilmu yang hanif dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jika kita
menanalogikan kehidupan kita seperti sebuah pohon; padi. Semakin berisi suatu
tanaman padi maka akan semakin merunduk ke arah bawah, artinya semakin banyak
ilmu yang kita miliki maka seharusnya kita tetap rendah hati dan tidak sombong
akan ilmu pengetahuan yang kita miliki karena semua itu atas kehendak Allah
SWT, kita yakin ilmu tersebut hanyalah titipan yang seharusnya kita ajarkan kepada
orang lain sehingga menjadikan amal jariyah, amal yang selalu mengalir walaupun
kita telah wafat. Sebagaimana suatu hadis yang diriwayatkan oleh oleh al-Bazzar
dalam Kasyful Astâr, hlm. 149 :
عَنْ أَنَسٍ رَ ضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ : سَبْعٌ يَجْرِي
لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ وَهُوَ فِي قَبْرِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ : مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا
أَوْ أَجْرَى نَهْرًا أَوْ حَفَرَ بِئْرًا أَوْ غَرَسَ نَخْلاً أَوْ بَنَى مَسْجِدًا
أَوْ وَرَّثَ مُصْحَفًا أَوْ تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ
Dari Anas Radhiyallahu
anhu, beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shaallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal
dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya (yaitu) : Orang yang yang
mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma,
membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan
ampun buatnya setelah dia meninggal.[7]
Dan juga dalam suatu
hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ
يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika manusia mati, maka
terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang
diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya”.[8]
Secara umum semakin besar
sebuah pohon maka akan semakin dalam akarnya, maka akan semakin kokoh pohon
tersebut walaupun dihantam oleh badai, artinya jika penggambaran akar
diidentikkan dengan iman seseorang maka seberat apapun ujian yang diberikan
jika telah tertanam nilai kesilaman (iman) didalamnya maka akan dihadapi dengan
lapang dada. Kita mengimani bahwa Allah SWT tidak akan memberikan ujian dan
cobaan kepada hambanya diluar dari batas kemampuannya. Sebagaimana firman Allah
SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 286 yang berbunyi :
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا
اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ
اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا
مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ
مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ
“Allah tidak membebani
seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari
(kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang
diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika
kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani
kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang
sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang
tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah
kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang
kafir”.[9]
Strategi yang mampu dilakukan untuk mewujudkan generasi
cerdas adalah dengan menanamkan nilai-nilai keislaman & ilmu pengetahuan,
sikap kritis, bantuan dana untuk riset, Menyaring pengaruh dari globalisasi.
Dan untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan kerjasama berbagai pihak minimal
dimulai dari kesadaran pribadi akan kemajuan bangsa Indonesia yang harus
dilakukan sejak dini (kalua bukan sekarang, kapan lagi ? Kalau bukan diri
sendiri siapa lagi ?).
[1] H.R. At-Tirmidzi
[2] Al-Qur’an, 2:275
[3] HR. Al-Qadlaa’iy
dalam Musnad Asy-Syihaab no. 129, Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath no. 5787
[4] HR. Al-Hakim
[5] https://p2k.unkris.ac.id/id3/2-3073-2962/Intelektual_49529_p2k-unkris.html,
Cendekiawan (Kamis, 9 Desember 2021, 09.00)
[6] https://news.detik.com/berita/d-4923336/ustaz-abdul-somad-beberkan-empat-ciri-orang-pintar-menurut-islam,
Ustaz Abdul Somad Beberkan Empat Ciri Orang Pintar Menurut Islam (Kamis, 9
Desember 2021, 09.35)
[7] HR. al-Bazzar, Kasyful
Astâr, 149
[8] HR. Muslim, 1631
[9] Al-Qur’an, 2:286
Komentar
Posting Komentar